Peristiwa Jogja Kembali dalam Bingkai Pendidikan

Oleh : Kisandrianto

Siswa SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta sedang berdoa dan melakukan tabur bunga

            Baru-baru ini tepatnya tanggal 29 Juni 2019 di Kota Yogyakarta diadakan peristiwa peringatan “Jogja Kembali” yang dipusatkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara Yogyakarta. Pada acara tersebut mengundang beberapa unsur lapisan masyarakat baik dari unsur lembaga pemerintahan, masyarakat, lembaga pendidikan, purnawirawan, paskibraka dan sebagainya. Tak terkecuali dari SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta juga ikut andil dalam kegiatan tersebut. Bukan sesuatu yang salah jika melibatkan sekolah dalam kegiatan tersebut karena memang setidaknya para pelajar bisa lebih mengetahui tentang sejarah bangsanya sendiri terlebih sejarah tersebut lahir di kotanya sendiri.

Sebenarnya apa sih “Peristiwa Jogja Kembali” itu?Secara singkatnya peristiwanya tersebut adalah sebagai berikut. Dimulai dari serangan umum 1 Maret yang digagas oleh Sri Sultan Hamengkubuwono dan dilaksanakan di lapangan oleh  Komando Letkol Soeharto, komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III, mulai mengempur pertahanan Belanda di semua pos-pos pasukan Belanda. Akhirnya kekuatan Belanda mulai melemah pada saat itu. Tepat jam 12:00 siang sesuai rencana pasukan TNI menarik diri dari pusat kota ketika bantuan Belanda datang. Sebuah kekalahan telak bagi pihak Belanda. Pertempuran yang dikenal dengan Serangan Umum 1 Maret inilah yang menjadi awal pembuktian pada dunia internasional bahwa TNI masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan serta menyatakan bahwa Republik Indonesia masih ada. Oleh karena itu, peristiwa Jogja Kembali sering dikaitkan dengan peristiwa serangan TNI ke dalam Kota Yogyakarta pada tanggal 1 Maret 1949.

Hal ini terpicu setelah pemerintah Belanda yang telah menangkap dan mengasingkan Bung Karno dan Bung Hatta ke Sumatera, memunculkan propaganda engan menyatakan Republik Indonesia sudah tidak ada. Berita perlawanan selama enam jam ini kemudian dikabarkan ke Wonosari, diteruskan ke Bukit Tinggi, lalu Birma, New Delhi (India), dan berakhir di kantor pusat PBB New York. Dari kabar ini, PBB yang menganggap Indonesia telah merdeka memaksa mengadakan Komisi Tiga Negara (KTN). Dalam pertemuan yang berlangsung di Hotel Des Indes Jakarta pada tanggal 14 April 1949 ini, wakil Indonesia yang dipimpin Moh.Roem Royen (Roem Royen  Statement).

Belanda Semakin Terjepit dalam Persetujuan Roem-Royen

Perjanjian ini merupakan Perjanjian pendahuluan sebelum KMB. Salah satu kesepakatan yang dicapai adalah Indonesia bersedia menghadiri KMB yang akan dilaksanakan di Den Haag negeri Belanda. Untuk mengHadapi KMB dilaksanakan konferensi inter Indonesia yang bertujuan untuk mengadakan pembicaraan antara badan permusyawaratan federal (BFO/Bijenkomst Voor Federal Overleg) dengan RI agar tercapai kesepakatan mendasar dalam menghadapi KMB. Komisi PBB yang menangai Indonesia digantikan UNCI.
UNCI berhasil membawa Indonesia-Belanda ke meja Perjanjian pada tanggal 7 Mei 1949 yang dikenal dengan persetujuan Roem-Royen (Roem-Royen Statement), yang isinya sebagai berikut:

  • Belanda harus pergi meninggalkan daerah Yogyakarta
  • Presiden dan wakil presiden kembali ke Yogyakarta
  • Panglima mengembalikan mandatnya kepada pemerintah Presiden Soekarno


Dalam perjanjian ini Belanda dipaksa untuk menarik pasukannya dari Indonesia, serta memulangkan Presiden dan Wakil Presiden, Soekarno-Hatta ke Jogja. Hingga akhirnya pada tanggal 27 Desember 1949 secara resmi Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia.

Demikian secara singkat pemaparan “Peristiwa Jogja Kembali”.

Iklan

Mengembangkan Tradisi Menulis Oleh : Kisandrianto

Pada dasarnya perkembangan adanya tradisi menulis ini embrionya dari ilmu sejarah. Dengan ditemukannya berbagai macam prasasti di masyarakat yang menandai berakhirnya zaman pra-akasara yang belum mengenal tulisan. Sebenarnya awal mula yang berkembang di masyarakat adalah tradisi lisan (oral history) yang sudah lama dilakukannya sebelum mengenal tulisan. Perkembangan tradisi lisan inilah yang menjadi cikal bakal perkembangan tradisi tulisan di masyarakat.

Tradisi lisan digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan sejarah melalui cerita, lagu, pantun, dan nasehat. Proses ini berlangsung lama sehingga dianggap sebagai cara yang efektif untuk melestarikan sejarah pada waktu itu. Tradisi lisan terus berkembang pada masa-masa awal sejarah kemanusiaan hingga masyarakat mengenal tulisan. Dalam setiap kelompok, suku, ras, ataupun bangsa terdapat tradisi lisan yang beragam dan memiliki kekhasan masing-masing. Bahkan tidak sedikit yang memiliki kemiripan dari isi atau pesan yang dibawanya. Budaya, adat, dan sejarah secara turun-temurun disampaikan melalui lisan, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika sudah mulai mengenal tulisan, penggunaan tradisi lisan cenderung menurun. Karena tulisan dianggap lebih efektif dalam menyimpan dan menyampaikan pesan sejarah.(https://brainly.co.id/tugas/16861416)

Menulis sebenarnya bukan sesuatu yang sulit bagi kita. Asalkan mempunyai kemauan dan keinginan yang kuat menulis itu seperti mengalir begitu saja. Memang pada

awalnya akan terasa berat kalau tidak terbiasa menulis, tetapi lama kelamaan akan menjadi akan menjadi suatu kebiasaan yang menjadi bagian yang biasa saja. Memang bagi golongan akademisi untuk melakukan karya tulis harus melalui tahapan-tahapan metode tersendiri. Khususnya dengan tulisan yang bersifat ilmiah. Akan tetapi kalau semua mengukur pada tulisan ilmiah pasti akan membutuhkan waktu yang lama sekali. Tulisan ringan tetapi bermakna serta dengan data yang kuat (tidak asal) sudah menjadi tulisan yang bisa kita tuangkan baik melalui media cetak maupun media online. Tulisan adalah satu bahasa yang paling mudah untuk kita terapkan terhadap orang banyak, karena melalui tulisan itulah semua orang menjadi tahu apa yang kita pikirkan dan kita rasakan melalui tulisan tersebut.

Contoh bahwa karya tulis bukan sesuatu yang sulit adalah ketika Bung Hata dan Bung Karno dipenjara oleh kaum kolonial Belanda, disela waktunya masih bisa menyempatkan diri untuk menulis. Siapa sangka dari karya kedua tokoh tersebut justru menjadi pembuka penyemangat bangsa ini untuk menjadi bangsa yang mandiri berjuang di atas kakinya sendiri. Dari sinilah bisa kita peroleh pelajaran bahwa menulis adalah satu hal yang sangat penting untuk kita budayakan. Menulis juga tidak pernah mengenal usia, masih ingat penulis terkenal Laskar Pelangi Andrea Hirata yang baru menulis pada usia 40 tahun. Siapa sangka dari hasil karya tulisnya itu menjadi “best seller” di Indonesia. Oleh karena itulah tidak menjadi suatu alasan untuk mengatakan bahwa kalau menulis itu bisa dilakukana ketika masih muda, masih sekolah/kuliah, dan sebagainya yang masih bisa menuangkan idenya secara kreatif dan edukatif di usia-usia itu. Tetapi menulis itu adalah suatu kebutuhan yang harus kita lakukan tanpa mengenal batas baik usia, pekerjaan dan sebagainya.

Dalam kaitan ini pemikir Islam terkemuka Imam Ghazali menyatakan, “Manakala yang dicita-citakan itu baik serta mulia, maka pasti akan sulit ditempuh serta panjang jalannya”. Beliau pun pernah mengingatkan bahwa “Tidak akan sampai ke puncak kejayaan kecuali dengan kerja keras, dan tidak akan sampai ke puncak keagungan kecuali dengan sopan santun”. Memang semua itu tidak mudah untuk kita memulai menulis, tetapi dengan ketekunan dan kerja keras kita semua akan bisa melakukan dan mengembangkan budaya tulis tersebut. Bagaimanapun juga, menulis itu mempunyai nilai ibadah terlebih apa yang kita tuliskan itu bisa memberi inspirasi pembacanya untuk berbuat kebaikan. Bisa dikatakan pula menulis itu menjadi bernilai sedekah karena tulisan kita buat menjadikan orang yang idak tahu menjadi lebih tahu bahkan bisa menjadi motivasi dan inspirasinya para pembaca untuk melakukannya, tentunya untuk hal-hal yang bersifat positif dan membangun. Oleh karena itulah melalui tulisan ini penulis mengajak para pembaca semuanya untuk membiasakan menulis apapun dari tingkat terkecil seperti buku diary (catatan pribadi), sampai ke tulisan yang bersifat ilmiah. Dimulai dari yang tingkat terkecil, lama-kelamaan nanti akan meningkat menjadi tulisan yang bersifat ilmiah. Yuk! Kita budayakan menulis!

y

Soal Latihan Kelas VIII

  1. Apa yg kalian ketahui tentang tokoh Daendeles?Hasil apa saja yang sudag dilakukan di Indonesia?
  2. Sebutkan salah satu kebijakan terkenal pada masa Raffles?Sebutkan pula ketentuan apa yang dimiliki pada sistem tsb
  3. Sebutkan salah satu tokoh yang yang menerapkan sistem tanam paksa! Sebutkan pula ketentuan2 tanam paksa
  4. Sebutkan macam2 perlawanan rakyat terhadap persekutuan dagang!
  5. Sebutkan isi dari perjanjian Bongaya!Sebutkan pula tokohnya dalam perjanjian tsb?

SOAL LATIHAN KELAS VIII

1. Berikan penjelasanmu sebab-sebab kegagalan serangan Mataram terhadap VOC!

2. Berikan penjelasanmu mengapa terjadi Perang Saparua (Perang Maluku)! Sebutkan pula tokoh-tokoh yang terlibat dalam perlawanan tersebut!

3. Sebutkan sebab-sebab terjadinya Perang Padri serta tokoh-tokoh siapa saja yang terlibat dalam perlawanan tersebut!

4. Berikan keteranganmu tentang sebab-sebab terjadinya Perang Diponegoro, dan siasat apa yang dilakukan Belanda untuk menghadapi perang tersebut!

5. Sebutkan tokoh-tokoh yang muncul dalam perlawanan Perang Aceh, Perlawanan Sisingamarja, Perang Banjar, Perang Jagaraga/Puputan. Sebutkan pula latar belakang terjadinya peperangan tersebut!

Kegiatan Observasi Sekolah

Kegiatan Observasi sekolah sebagai bagian dari menambah wawasan pengetahuan sekaligus untuk memperkuat ilmu yang diperoleh dari dunia pendidikan baik di tingkat dasar, menengah pertama, menengah atas sampai perguruan tinggi. Pada dasarnya ilmu yang diperoleh semua siswa itu bila tidak diimplementasikan ke dalam dunia nyata, maka ilmu yang diperoleh seakan tiada bernyawa. Ilmu itu harus mempunyai nilai guna bagi semua manusia, karena di situlah  manfaat ilmu yang sesungguhnya bagi manusia yang bisa membantu meningkatkan kualitas hidupnya.

            Kegiatan observasi sekolah di SMP Muhammadiyah Yogyakarta untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dilakukan oleh siswa kelas VII baik A, B, C dan D. Kegiatan ini dilakukan disesuaikan dengan materi yang diajarkan sehingga diharapkan siswa bisa lebih menyerap ilmu yang diperoleh dari bapak/ibu guru di sekolah. Kegiatan observasi ini dilakukan di luar sekolah di lingkungan yang terdekat dari sekolah dengan tujuan selain efisiensi biaya dan waktu juga untuk lebih mendekatkan siswa untuk lebih mengenal lingkungan sekitar sekolah sebagai bagian dari wawasan wiyata mandala.

            Kegiatan obsevasi sekolah untuk mata pelajaran IPS dengan materi “Pasar” dilakukan di Pasar Sentul yang lokasinya tidak jauh dari lingkungan sekolah. Kegiatan ini ternyata mendapat sambutan yang hangat dari semua siswa bahkan para penjual yang ada di Pasar Sentul tersebut juga dengan senang hati menyambutnya. Jauh dari pikiran anak-anak yang membayangkan banyak pedagang yang akan banyak menolaknya karena merasa terganggu pekerjaannya. Bahkan ada beberapa anak yang benar-benar diberikan waktu khusus untuk mewancarainya bahkan ada yang bisa mengabadikan moment tersebut dalam bentuk video maupun gambar.

            Setelah melakukan observasi, anak-anak diwajibkan membuat laporan per kelompok dengan tugas yang sudah diberikan di kelas dan dilaksanakan di tempat observasi yaitu pasar. Waktu penyusunan laporan pun diberi jeda waktu 1 minggu minimalnya serta 2 minggu maksimalnya.